Ulasan Yakuza: Like a Dragon

Tanggal Rilis
10 November 2020
Penerbit
Sega
Dimainkan di
Playstation 4
Beli di BliBli

Dengan berakhirnya saga Kazuma Kiryu di Yakuza 6: The Song of Life, Ryu ga Gotoku Studio (RGGS) meyakini bahwa seri Yakuza membutuhkan wajah baru yang dapat membawa angin segar bagi seri tersebut. Namun sungguh mengejutkan saat mereka beralih ke seri Dragon Quest sebagai inspirasi utama mereka.

Betul sekali, Yakuza: Like a Dragon berubah dari gim aksi petualangan menjadi RPG berbasis giliran. Berikut ulasan dari saya yang diupayakan sebisa mungkin untuk tidak memberikan bocoran isi cerita.

Perkenalkan Ichiban

Masuklah Ichiban Kasuga sebagai tokoh utama yang menggantikan peran Kazuma Kiryu. Dan wow, sungguh berbeda 180 derajat dari Kiryu! Ichiban yang memiliki masa lalu yang cukup kelam berhasil mengambil hati saya ketika memainkannya.

Sosoknya yang ceria dan berhati mulia(!) benar-benar menjadi hati dan nyawa bagi babak baru serial Yakuza ini. Mungkin agak sedikit hampir masuk ke jebakan tipikal tokoh utama serial Shounen, namun untungnya para penulis di RGGS cukup sadar akan hal tersebut dan menjaga agar Ichiban tidak terperosok masuk ke lubang tersebut.

Ichiban Kasuga

Karakter Pendukung yang Hidup

Apalah RPG jika tidak disertai karakter-karakter pendukung yang menjadikan dunia dan cerita gim menjadi lebih hidup? Demikian juga dengan Yakuza: Like a Dragon, yang dihiasi dengan karakter-karakter pendukung serta interaksi mereka yang sangat menarik.

Saya merasa Yakuza: Like a Dragon benar-benar naik level satu tingkat dengan interaksi antar karakternya, terutama kuartet Ichiban Kasuga, Yu Nanba, Saeko Mukoda, dan Koichi Adachi. Yang saya menduganya mungkin terinspirasi dari Four Heroes of Lights di Final Fantasy.

Saeko Mukoda

Jalan Cerita serta Karakter Lainnya

Jalan cerita yang coba ditampilkan oleh RGGS di Yakuza: Like a Dragon mencoba mengambil cabang yang berbeda dari serial Yakuza sebelumnya.

Jalan cerita cukup ciamik walaupun dengan beberapa lubang yang ditinggalkan Masumi Arakawa yang agak sedikit membingungkan. Yakuza: Like a Dragon dilengkapi pula dengan adegan akhir yang menyayat hati (siapkan tisu, saya menangis).

Sayang sekali, saya merasa tokoh “penjahat” yang ditampilkan di Yakuza: Like a Dragon sangatlah dangkal dan konyol motivasinya jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain di serial sebelumnya.

Selain itu beberapa karakter terkesan kurang digunakan dengan optimal dan sekenanya saja agar memberikan efek “wah” di awal-awal bagi pemain, khususnya yang berada di Jepang atau terbiasa dengan kultur pop Jepang.

Namun untungnya hal-hal di atas tidak merusak jalan cerita yang sudah dibangun dan pemain dapat, sekali lagi, meneteskan air mata haru biru di adegan akhir.

Dan jangan lupakan sub-quests yang seperti pendahulunya, banyak sekali, dan juga berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak. Seperti biasa juga, RRGS menambahkan banyak sekali permainan kata-kata seperti di serial sebelumnya.

Salah satu sub-quests

Ijincho yang Sepi

Ijincho, area baru di Yakuza: Like Dragon, memliki area dengan besar beberapa kali lipatnya Kamurocho. Namun lebih besar bukan tentu lebih baik. Ijincho, dengan bahasa yang sangat saya haluskan, terasa sepi sekali.

Ini tentu saja subjektif ya, namun saya merasa dengan luas sebesar itu, harusnya ada lebih banyak poin-poin interaktif bagi Ichiban dan kawan-kawan. Terutama dari segi NPC (kecuali sub-stories NPC) yang terasa statis sehingga world-building-nya terasa sangat kurang.

Mungkin dengan dialog pop-up seperti di serial pendahulu dapat sedikit menghilangkan rasa sepi tersebut? Saya kurang tahu.

Ijincho pada malam hari

RPG Berbasis Giliran

Perubahan dari aksi petualangan menjadi RPG berbasis giliran tentu memberikan beberapa plus dan minusnya sendiri. Saya yang sangat terbiasa dengan RPG berbasis giliran tentu menyambut dengan bahagia sistem baru ini.

Apalagi dengan hadirnya sistem Job yang memungkinkan pemain untuk memilih dan membangun gaya bermainnya sendiri. Ada 13 Job pilihan (9 untuk karakter pria, 4 untuk karakter wanita) dan 7 Job unik. Sayang sekali saya merasa perubahan Job tidak terlalu diperlukan kecuali untuk Koichi Adachi dan Saeko Mukoda (dan mungkin Eri Kamataki) karena Job unik yang diberikan di gim sudah lebih dari cukup.

Kekurangannya dalam hal sistem bertarungnya tentu saja environment attack menjadi hanya sebatas skill untuk Job tertentu saja. Saya yang sangat menikmati menggunakan lingkungan dan benda di sekitar untuk menghajar musuh-musuh saya di serial sebelumnya harus melupakan hal tersebut di sini karena Job yang saya pilih berbeda dan tidak memiliki skill tersebut.

Kekurangan lainnya adalah cukup sulit untuk menghindari pertarungan. Apabila terdahulu cukup lari saja, kali ini dipengaruhi juga oleh RNG alias acak alias gacha.

Turn-based Battle System

Tapi hal tersebut di atas sama sekali tidak mengganggu pertarungan dengan para keroco-keroco di gim ini secara keseluruhan karena saya sangat menikmatinya.

Kenaikan level ditangani seperti halnya gim klasik RPG seperti Dragon Quest dan Final Fantasy. Dan mengikuti seri Yakuza terdahulu, ada juga meter ikatan antar karakter yang kali ini lebih fungsional karena memberikan bonus pengalaman apabila karakter pendukung tidak berada di tim utama.

Secara garis besar, saya sangat menyukai perpindahan sistem ini karena terasa lebih “segar” dan “menantang” untuk seri Yakuza. Kenapa menantang? Tidak mungkin lagi melakukan spam healing item ketika melawan musuh yang lumayan sulit, ha ha ha ha… ha… haeh….

Dan seperti halnya RPG, juga ada bestiary, atau museum untuk musuh-musuh yang sudah Anda kalahkan. Uniknya, hal ini dipersembahkan ke pemain seperti halnya Pokemon, seolah-olah Anda harus “menangkap” musuh-musuh tersebut agar masuk ke dalam Sujidex, yang tentu saja mengacu pada Pokedex.

Mungkin sedikit catatan bagi yang tidak suka pertarungan lama lawan bos ala RPG klasik: Gim ini juga ada dan banyak sekali pertarungan melawan bos yang memakan waktu lama sekali karena HPnya besar.

Masumi Arakawa

Gim Mini

Sama seperti seri pendahulunya, Yakuza: Like a Dragon juga dipenuhi dengan gim mini yang kali ini digawangi oleh dua gim mini yang cukup besar: Dragon Kart dan Business Management.

Favorit saya tentu saja Business Management dimana Ichiban berusaha untuk membawa firmanya menjadi nomor satu di Ijincho. Anda diberikan kesempatan oleh gim untuk membeli properti, mengembangkannya, dan mencari karyawan untuk bekerja di dalamnya.

Karyawan bisa didapatkan dari sub-quest yang banyak sekali ada di gim ini, atau dengan menawarkan pekerjaan kepada orang-orang di kota, baik itu Ijincho, Kamurocho, maupun Sotenbori.

Gim mini di Yakuza, Manajemen Bisnis

Gim mini yang lainnya masih sama seperti pada beberapa gim terdahulu seperti bisbol, shougi, poker, mahjong, dll.

Ironisnya salah satu punggawa gim mini kali ini yang justru saya kurang sukai. Ya, saya kurang begitu suka Dragon Kart. Seperti halnya gim yang meninspirasi gim mini ini, Mario Kart, Dragon Kart juga melakukan sistem rubber-band untuk menambahkan tantangan.

Sayang sekali sistem rubber-band di gim ini terkadang suka mengadi-ngadi. Walhasil, memenangkan turnamen Dragon Cup dan di atasnya (termasuk melawan rival) hampir tidak mungkin tanpa adegan Anda membanting pengontrol konsol. Ya…setidaknya saya sih, haha.

Saya lebih menikmati ketololan saya bermain mahjong daripada Dragon Kart. Untungnya rasa sebal itu dihilangkan oleh serunya Business Management.

Masih gim mini yang sama

Kameo

Saya tidak ingin berkata banyak, tapi siapkan hati Anda untuk dibawa nostalgia oleh hadirnya kembali karakter-karakter lama yang membekas di hati.

Musik

Serial Yakuza tidak pernah jauh dari dunia musik, terutama setelah meledaknya Baka Mitai. Kali ini Baka Mitai dibawakan oleh Yu Nanba. Namun kali ini saya tidak ingin berbicara tentang hal tersebut. Musik di pertarungan akhir merupakan salah satu musik terbaik yang ada tahun ini. Komposisi yang mirip buatan Kenji Hiramatsu tersebut benar-benar membuat kuping saya bernyanyi.

Dan tentu saja, ada puluhan CD di gim yang bisa Anda kumpulkan untuk bernostalgia dengan lagu-lagu gim lama keluaran Sega. Favorit saya tentu saja Dreams Dreams dari Nights.

Pemutar piringan

Kesimpulan

Sebagai usaha untuk menyegarkan kembali seri Yakuza, menurut saya Yakuza: Like a Dragon sangat berhasil. Walaupun bukannya tanpa cacat, Yakuza: Like a Dragon dengan karakter utama dan pendukung yang sangat baik, cerita yang menurut saya juga mencukupi standar RGGS, dan perubahan sistem yang selain memberikan angin segar, juga memberikan pendekatan baru bagi serial ini, siap untuk menjadi legenda di masa depan.

Selamat datang Ichiban Kasuga.

Ulasan Yakuza: Like a Dragon
Kesimpulan
Walaupun bukannya tanpa cacat, Yakuza: Like a Dragon dengan karakter utama dan pendukung yang sangat baik, cerita yang menurut saya juga mencukupi standar RGGS, dan perubahan sistem yang selain memberikan angin segar, juga memberikan pendekatan baru bagi serial ini, siap untuk menjadi legenda di masa depan.
Ichiban Kasuga!
Interaksi antar karakter pendukung
Gim mini simulasi bisnis
Konten, sejuta konten!
Penjahat utama yang "bleh"
Rubber-band di Dragon Kart
Beberapa karakter tidak dikembangkan dengan baik
8.5