Pojok Retro – Ulasan Dragon Force

Tanggal Rilis
29 March 1996
Penerbit
Sega
Dimainkan di
Sega Saturn

Selamat datang di kolom Pojok Retro perdana gimugemu! Kali ini gimugemu akan mengulas Dragon Force, sebuah gim grand strategy yang diluncurkan pada 29 Maret 1996 di Jepang untuk Sega Saturn. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Working Design.

Dibuat oleh J-Force (ditinggalkan di tengah jalan dan dilanjutkan in-house oleh Sega) serta diterbitkan oleh Sega, gim ini pertama kalinya yang menampilkan 200 sprites pasukan yang bertarung langsung di atas layar sehingga sering dibanding-bandingkan dengan film yang saat itu sedang cukup tren: Braveheart.

Jujur saja, gim yang menjadi kesayangan penulis ketika zaman SMP ini memiliki kedalaman yang cukup jarang ditemui di gim-gim grand strategy pada masa tersebut. Romance of the Three Kingdoms IV memang memiliki kedalaman yang cukup matang dari sisi gameplay, namun Dragon Force terasa lebih menyenangkan untuk dimainkan karena cerita fiksinya yang kaya serta dibantu pula oleh kehadiran karakter-karakter yang menarik dan lebih hidup.

Logo Dragon Force

Karakter

Tentu tidak semua karakter memiliki cerita yang dalam mengingat keterbatasan teknologi saat itu. Banyak sekali ditemui karakter-karakter vanila juga di gim ini. Namun karakter-karakter yang memiliki latar belakang sangat diceritakan dengan baik.

Ambil saja karakter favorit saya, Junon, yang memiliki jalan cerita yang sangat baik dan sangat progresif di zamannya atau kejutan dari karakter rahasia yang akan Anda dapatkan ketika Anda berhenti di salah satu titik di peta, baik itu desa maupun menara.

Dragon Force - Junon

Kejutan dari karakter rahasia itu bukan sekadar seperti ketika Anda tiba di sebuah desa dan melakukan scouting seperti wajarnya gim-gim grand strategy pada masa tersebut (walaupun Dragon Force juga melakukannya untuk karakter-karakter vanilanya).

Anda bukan pemandu bakat di Dragon Force dan gim akan memberikan story arch-nya sendiri untuk perekrutan karakter rahasia tersebut. Sebut saja misalnya seperti seorang ninja, vampir, dan naga yang memerlukan usaha dan strategi tambahan.

Bahkan beberapa karakter vanila juga memiliki sedikit kurangnya kepribadiannya sendiri yang bisa Anda mengerti melalui dialognya yang tidak acak, seperti misalnya Bastion, yang mungkin akan mengingatkan Anda pada Lu Bu dari Romance of the Three Kingdoms bagi Anda pencinta novel fiksi-sejarah besutan Luo Guanzhong yang telah diangkat menjadi seri gim yang sangat sukses.

Pengkarakteran seperti inilah yang kurang dari kebanyakan gim-gim grand strategy pada masa itu yang lebih menitik-beratkan pada gameplay dan aspek manajemen mikro.

Tapi bukan berarti Dragon Force tidak memiliki manajemen mikro dan gameplay yang baik, lho.

Gameplay

Memang konsep batu-gunting-kertas bukanlah hal yang baru untuk gameplay sebuah gim. Namun bagaimana apabila konsep batu-gunting-kertas dikembangkan menjadi 200 pasukan yang berperang memenuhi layar ditambah dengan pemimpin pasukan yang bisa mengeluarkan jurus jarak jauh yang mematikan?

Mata saya, sebagai seorang anak SMP, berbinar-binar setiap kali ada pertarungan di layar dan saya amat sangat menantikan pertarungan di gim ini. Sesuatu yang sangat abnormal untuk gim grand strategy yang bisa memakan waktu puluhan bahkan ratusan jam sehingga pertarungan sebisa mungkin dilewati karena sudah membosankan.

Tidak hanya strategi batu-gunting-kertas, ada pula formasi pasukan yang harus dipikirkan. Konsep ini membuat strategi batu-gunting-kertas yang terlalu umum menjadi lebih menarik lagi karena formasi yang lebih baik dari musuh akan sedikit kurangnya membantu apabila jenis pasukan Anda lemah terhadap jenis pasukan musuh.

Seperti misalnya ketika Anda memiliki pasukan harpy yang lemah terhadap archer (pemanah). Dengan formasi yang baik, jumlah pasukan yang cukup, sedikit keberuntungan, serta keterbatasan AI pada zaman tersebut, Anda dapat melingkari musuh dan menyerang dari belakang sembari memancing jenderal musuh untuk memajukan formasi-nya untuk menyerang jenderal Anda. Sebuah kemenangan (sangat) tipis menanti Anda.

Yang lebih menarik, tidak semuanya harus diselesaikan dengan menghabisi musuh. Beberapa musuh di pertengahan yang berasal dari “neraka” bisa dihentikan serangannya dengan membiarkan pemimpin pasukannya mundur dengan 0 pasukan dan tanpa kastel yang mereka kuasai . Masuk akal mengingat mereka tidak memiliki kastel untuk mengisi ulang pasukannya, dan tidak pula “tewas” untuk kembali ke “neraka” dan mengisi ulang pasukannya. Sebenar-benarnya sebuah gim strategi.

Manajemen Mikro

Manajemen mikro di Dragon Force tidak sedetail gim-gim grand strategy lainnya namun bukan berarti inferior. Anda dapat membangun kastel Anda sehingga semakin besar dan dapat memberikan pasokan pasukan yang lebih besar dan bonus atribut setiap bertahan dari serangan di kasti pada setiap pertemuan mingguan dalam waktu gim yang ditandai dengan jam pasir.

Di pertemuan mingguan tersebut, Anda dapat memberikan medali jasa dan harta karun ke jenderal-jenderal Anda agar dapat mempertahankan kesetiaan mereka. Medali jasa juga menambah jumlah pasukan yang bisa mereka bawa ke medan perang. Semakin banyak medali, semakin banyak pula pasukan yang bisa dibawa.

Anda juga bisa mengubah jenis pasukan yang dibawa oleh seorang jenderal yang membuat semakin banyak variasi strategi yang bisa Anda andalkan. Demikian halnya juga dengan merekrut jenderal yang Anda tangkap di medan perang dan juga scouting. Semuanya bisa dilakukan di pertemuan domestik mingguan ini.

Kekurangan

Gim ini tidak sempurna dengan beberapa kekurangan yang lebih banyak mengarah ke quality of life bagi para pemain dan dialog yang terkadang sedikit seperti terpatah-patah karena keterbatasan teknologi.

Yang paling kurang menyenangkan adalah Anda harus memastikan setiap jenderal memiliki kesetiaan yang cukup, jadi terkadang agak sedikit bosan dan menyebalkan untuk melakukan wawancara dengan setiap jenderal yang ada, apalagi apabila Anda memiliki jumlah jenderal yang cukup banyak. Indikator yang menunjukkan tingkat kesetiaan jenderal Anda akan lebih memudahkan tugas ini.

Kekurangan lainnya adalah tidak adanya pilihan untuk scouting/search secara menyeluruh untuk kastel-kastel Anda. Jadi apabila Anda sudah memiliki banyak sekali kastel, hal ini juga menjadi sangat menyebalkan.

Dragon Force

Tidak diragukan lagi, Dragon Force adalah harta karun untuk Sega Saturn, dunia gim, dan tentunya, para pemain gim. Musik yang berulang-ulang diputar di peta memang sedikit membuat sebal, tapi tidak masalah karena setidaknya berubah untuk event-event tertentu. Bahkan di satu titik, saya sedikit merindukan suara terompet di awal peta terbuka tersebut.

Melihat lagi ke belakang, Dragon Force adalah salah satu gim yang membuat saya sangat menyenangi grand strategy saat ini selain Romance of the Three Kingdoms IV. Gim ini tidak seluruhnya lekang oleh waktu dan saya boleh katakan, sangat relevan dan bisa dimainkan kembali oleh generasi-generasi muda masa kini.

Dragon Force II yang tidak memiliki rilis resmi berbahasa Inggris saat ini sudah diterjemahkan oleh para penggemar. Sayang sekali, menurut saya tidak sebaik Dragon Force, namun ini sebuah pembahasan untuk pojok retro yang lain berikutnya, ya.

Dragon Force
Kesimpulan
Tidak diragukan lagi, Dragon Force adalah harta karun untuk Sega Saturn, dunia gim, dan tentunya, para pemain gim. Melihat lagi ke belakang, Dragon Force adalah salah satu gim yang membuat saya sangat menyenangi grand strategy saat ini selain Romance of the Three Kingdoms IV. Gim ini tidak seluruhnya lekang oleh waktu dan saya boleh katakan, sangat relevan dan bisa dimainkan kembali oleh generasi-generasi muda masa kini.
Gameplay yang sangat dalam
Karakter-karakter yang menarik
Kejutan yang menumpuk membuat bermain berulang kali terasa menyenangkan
Musik yang repetitif
Keterbatasan teknologi mengakibatkan banyak aspek QoL yang terasa abai ketika dimainkan di masa modern ini
9