Ulasan When the Past was Around

Tanggal Rilis
20 September 2020
Penerbit
Toge Productions
Dimainkan di
Steam

When the Past was Around adalah sebuah gim yang dikembangkan oleh Mojiken dan diterbitkan oleh Toge Productions pada 22 September 2020 untuk PC, PlayStation 4, Xbox One, dan Switch.

Gim yang dibanderol dengan harga 60.000 Rupiah termasuk pajak di Steam dan mendapatkan ulasan yang fenomenal dari para pemainnya ini akhirnya bisa saya beli dan coba mainkan.

Beberapa mengkategorikan gim ini sebagai gim dengan genre hidden object, beberapa sebagai gim puzzle, intinya menurut saya secara garis besar masih masuk ke dalam ranah genre point & click.

when the past was around 01

Cerita

When the Past was Around bercerita tentang Eda, seorang wanita muda yang berjuang menghadapi apa yang menghantui dari masa lalunya, perjuangan untuk belajar menerima kehilangan orang yang dicintai, dalam hal ini Eda dan (mungkin) kekasihnya yang disimbolkan dengan manusia berkepala burung hantu.

Sebut saja namanya Mas Burhan.

Belajar untuk mengelola kesedihan seperti yang dialami oleh Eda di gim ini merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan dan tidak perlu menunggu lama bagi saya untuk bisa merasa berada di posisi yang sama dengan Eda.

When the Past was Around 02

Cerita berdamai dengan rasa duka dan kehilangan di When the Past was Around dikemas dengan tema musik yang secara brilian berhasil untuk bercerita tanpa menggunakan teks sama sekali dan perlahan-lahan semakin menggambarkan kekalutan pikiran Eda dalam menghadapi kehilangan tersebut.

Seakan-akan cerita mengalur dengan dinamika cressendo yang apik dan nyaring.

…mungkin saya sedikit terkesan berlebihan karena bias saya terhadap cerita gim ini yang saya akui terlalu dekat dengan apa yang pernah saya alami.

Namun bagi saya, kemampuan gim ini untuk bercerita melalui sudut pandang ruang bawah sadar dan kekalutan pikiran Eda tanpa teks sama sekali DAN berhasil memvisualisasikannya dengan sukses adalah sebuah pekerjaan yang patut diberikan penghargaan tersendiri.

Visual

Bicara tentang visualisasi, saya harus angkat topi untuk Brigitta Rena. Penyajian visual When the Past was Around memberikan warna dan nyawa tersendiri bagi gim ini dan sangat berhasil menangkap beragam ekspresi Eda dan Mas Burhan untuk membantu menyampaikan nuansa narasi ke pemain.

Tidak hanya itu, permainan palet warna untuk kembali membantu menyampaikan nuansa narasi ke pemain juga dieksekusi dengan sangat baik. Beberapa bagian animasi yang terkesan “sederhana” justru juga membantu menyampaikan narasi tersebut.

Ada beberapa visual yang tidak konsisten dengan interaksi yang pemain lakukan pada benda-benda, seperti misalnya membuka laci meja di layar yang diperbesar, tapi tidak terlihat di layar utamanya. Namun hal tersebut tidak terlalu mengganggu.

Hambar

Tentu saja When the Past was Around bukannya tanpa cela di mata saya. Bagi saya, cara mereka menerapkan mekanisme point & click yang sebenarnya sudah “cukup” ini masih terasa hambar.

Tidak ada atau sedikitnya interaksi lingkungan sinematik dan teka-teki kombo seperti misalnya Deponia/Day of the Tentacle atau kombinasi barang-barang seperti layaknya gim-gim point & click di era modern membuat gim terasa sedikit sempit.

Walaupun berbeda sub-genre dengan gim yang sebutkan di atas, saya masih merasa perlunya tambahan sedikit bumbu untuk teka-teki dan interaksi lingkungan di gim ini. Atau setidaknya memiliki cerita bercabang seperti seri Zero Escape yang mungkin secara spiritual memiliki sedikit kemiripan dari cara mengekspresikan teka-tekinya.

Walaupun ada cukup banyak teka-teki berantai, kombo, sejauh yang saya rasakan, tidak ada sama sekali. Jadi pemain dihadapkan pada teka-teki berantai yang bisa dipecahkan dengan metode satu-persatu menggunakan petunjuk yang ada.

Teka-teki varian Menara Hanoi sebagai salah satu bagian dari teka-teki berantai di gim ini

Quality of Life

Satu hal yang menurut saya sedikit mengganggu. When the Past was Around memiliki teka-teki yang terkadang membutuhkan pemain yang memiliki rentang daya ingat seperti ikan mas koki, yang terkena masalah kehilangan ingatan jangka pendek pula (baca: saya), untuk melakukan tangkapan layar agar dapat mengingat petunjuk yang diberikan oleh gim untuk memecahkan teka-tekinya.

Tidak adanya fungsi untuk membuat catatan manual membuat memecahkan teka-teki menjadi sedikit menyebalkan karena harus berpindah layar untuk memeriksa catatan atau tangkapan layar.

Kunci G, 1/2, 1/4. Gampang menghafalnya bagi yang bisa membaca notasi musik namun akan sangat sulit bagi yang tidak

Di PC hal ini semakin menjadi menyebalkan karena tidak adanya mode borderless window di opsi pengaturan gim sehingga berpindah layar dari mode layar penuh harus memakan sedikit waktu tambahan lagi.

Aspek-aspek yang saya harapkan seharusnya sudah datang dengan gim modern seperti ini.

Waktu Bermain

Singkat saja…SINGKAT!

Gim ini dapat ditamatkan di bawah 2 jam. Serius. Saya berhasil menamatkan gim ini dalam waktu 113 menit, itu pun ditambah dengan waktu saya mencuci piring ketika masih di halaman menu dan belum memulai gimnya.

Hal tersebut, ditambah dengan kondisi kantong yang merana, denda PLN, dan gimugemu yang baru menghasilkan satu rupiah, membuat saya memikirkan sebuah hitungan yang aslinya sangat konyol dan salah: biaya gim ini menjadi lebih kurang 33.000 Rupiah/jam, ya?

Musik, Terbaik di When the Past was Around

Bagian paling favorit saya di gim ini adalah musik yang ditata oleh Masdito “ittou” Bachtiar yang benar-benar berhasil memberikan wajah bagi gim ini dalam bentuk tema.

Memecahkan teka-teki di When the Past was Around tidak akan sama lagi tanpa iringan musik-musik dengan nuansa yang amat sesuai dengan tema yang diangkat, dan dengan empat bar saja, gim ini berhasil menangkap dan memenangkan perhatian saya setelah cukup lelah mencuci piring.

Empat bar yang memiliki ketukan asli 4/4 di atas akan terus muncul di sepanjang gim dan menjadi elemen utama beberapa lagu-lagu di gim ini. Kalau ini gim lain, tentunya akan terasa sedikit membosankan tapi tidak, gim ini berhasil membuat empat bar notasi ini menjadi tema yang tidak membosankan dan berhasil menjadi konduktor emosi dari adegan-adegan yang ada.

Lagu-lagu tersebut tersedia di Spotify dan saya sangat menyarankan untuk mendengarkannya terutama lagu terakhir: When the Past was Around.

Mas Burhan main biola, Eda menatap terpesona, Musik di WtPwA membawa iba, Masdito aku jatuh cinta ~♫

Kesimpulan

Sangat sulit untuk menilai When the Past was Around karena timpangnya gameplay dan waktu bermain dengan keajaiban audio dan visual yang disajikan hampir tanpa cela. Aspek cerita dari gim ini akhirnya akan menjadi penentu subjektif, setidaknya bagi saya.

Cerita yang secara subjektif menyentuh relung hati dan dibungkus dengan visual yang sangat indah dan tata suara yang nyaris nircela membuat singkatnya waktu bermain dan juga hambarnya gameplay terbayar lunas.

Ulasan When the Past was Around
Kesimpulan
Cerita yang secara subjektif menyentuh relung hati dan dibungkus dengan visual yang sangat indah dan tata suara yang nyaris nircela membuat singkatnya waktu bermain dan juga hambarnya gameplay terbayar lunas.
Cerita yang menyentuh hati
Penyutradaraan visual yang detail
Musik yang menggugah
Waktu bermain yang terlalu singkat
Mekanisme gameplay yang sedikit hambar
7.5